
Dalam era globalisasi yang semakin pesat seperti sekarang ini, kemampuan berbahasa Inggris telah bertransformasi dari sekadar nilai tambah menjadi kebutuhan esensial yang tak terelakkan. Bahasa Inggris bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga kunci pembuka pintu menuju peluang karir internasional, pendidikan berkualitas di universitas ternama dunia, serta pengalaman budaya yang memperkaya wawasan. Bagi generasi muda Indonesia yang bercita-cita tinggi, menguasai bahasa Inggris dengan baik dapat menjadi differentiator utama dalam persaingan global yang ketat.
Terutama bagi mereka yang bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri, bekerja di perusahaan multinasional, atau mengikuti program pertukaran pelajar, skor tinggi dalam tes bahasa Inggris internasional menjadi syarat mutlak. Universitas-universitas top seperti Harvard, Oxford, atau Stanford seringkali menetapkan ambang batas TOEFL atau IELTS yang tinggi, sementara perusahaan global seperti Google, Unilever, atau Siemens menggunakan skor tersebut sebagai filter awal rekrutmen. Bahkan untuk visa studi atau kerja di negara-negara seperti Australia, Kanada, atau Inggris, IELTS sering menjadi persyaratan wajib yang tidak bisa ditawar.
Dua tes yang paling sering dijadikan tolak ukur kemampuan bahasa Inggris internasional adalah TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Testing System). TOEFL, yang dikembangkan oleh ETS (Educational Testing Service), lebih populer di Amerika Serikat dan Kanada, sementara IELTS, yang dikelola bersama oleh British Council, IDP, dan Cambridge Assessment English, lebih dominan di Inggris, Australia, dan Eropa. Meskipun keduanya memiliki struktur, jenis soal, dan penilaian yang berbeda, tujuan utamanya tetap sama: mengukur kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa Inggris secara akademik untuk membaca teks kompleks, mendengarkan kuliah, berbicara dalam diskusi, serta menulis esai argumentatif, maupun secara profesional dalam konteks sehari-hari.
Perbedaan mendasar antara TOEFL dan IELTS terletak pada formatnya. TOEFL iBT (Internet-based Test) sepenuhnya berbasis komputer dengan durasi sekitar 3-4 jam, sementara IELTS menawarkan pilihan paper-based atau computer-delivered, dengan bagian Speaking yang dilakukan tatap muka dengan examiner. Skor TOEFL berkisar 0-120, sedangkan IELTS menggunakan band 0-9. Memahami nuansa ini sejak dini akan membantu Anda memilih tes yang paling sesuai dengan tujuan dan gaya belajar Anda.
Mencapai skor tinggi dalam TOEFL maupun IELTS bukanlah hal yang mustahil. Asalkan dibarengi dengan strategi belajar yang tepat, disiplin tinggi, serta pemahaman mendalam terhadap format tes itu sendiri, ribuan pelajar dari berbagai negara, termasuk Indonesia, telah berhasil meraih band 7+ di IELTS atau 100+ di TOEFL. Kunci sukses terletak pada pendekatan holistik yang menggabungkan teori, praktik intensif, dan refleksi diri. Banyak alumni yang awalnya kesulitan kini berhasil diterima di universitas impian mereka berkat ketekunan dan metode belajar yang efektif.
Berikut ini adalah beberapa tips efektif yang telah terbukti membantu banyak pelajar dalam meraih skor yang mereka inginkan. Tips ini didasarkan pada pengalaman nyata para high achiever, rekomendasi dari official prep materials, serta insights dari tutor berpengalaman. Dengan menerapkannya secara konsisten, Anda tidak hanya akan meningkatkan skor, tetapi juga membangun kemampuan bahasa Inggris yang sustainable untuk jangka panjang.
Baca juga: Intip Cara Belajar Mahasiswa Oxford ala Maudy Ayunda
1. Terapkan Bahasa Inggris dalam Kehidupan Sehari-hari
Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan oleh pelajar adalah membatasi praktik bahasa Inggris hanya dalam sesi belajar formal. Padahal, kunci dari penguasaan bahasa adalah konsistensi dan keterlibatan aktif dalam penggunaan sehari-hari, yang dikenal sebagai immersion method. Metode ini telah dibuktikan oleh para polyglot dan ahli linguistik sebagai cara paling efektif untuk membangun intuisi bahasa alami.
Mulailah dengan langkah sederhana seperti mengganti bahasa di ponsel, laptop, dan media sosial ke bahasa Inggris, menonton film atau serial Netflix dengan subtitle bahasa Inggris (atau tanpa subtitle untuk level advanced), serta membaca berita dari sumber terpercaya seperti BBC, CNN, atau The Guardian secara rutin setiap pagi. Aktivitas ini tidak hanya memperkaya vocabulary, tetapi juga melatih ear untuk aksen native yang beragam, mulai dari American English hingga British English.
Bahkan, aktivitas harian seperti membuat daftar belanja dengan istilah Inggris (misalnya “grocery list” alih-alih daftar belanja), mencatat to-do list di aplikasi seperti Notion atau Google Keep, atau menulis jurnal pribadi tentang hari Anda pun bisa dilakukan dalam bahasa Inggris. Cobalah untuk berpikir dalam bahasa Inggris saat merencanakan hari, seperti “What should I prioritize today?” Ini akan membantu otak Anda beralih dari translation mode ke direct thinking mode.
Semakin sering kamu terpapar dan menggunakan bahasa Inggris dalam konteks yang nyata dan relevan dengan kehidupan pribadi, maka akan semakin cepat juga kamu untuk terbiasa dengan struktur kalimat idiomatik, kosa kata kontekstual, serta ekspresi yang lazim digunakan dalam percakapan akademik maupun profesional. Studi dari Cambridge University menunjukkan bahwa immersion harian dapat meningkatkan fluency hingga 30% dalam waktu 3 bulan. Jadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari lifestyle Anda, bukan hanya tugas belajar.
2. Latihan Menggunakan Simulasi Tes Berbasis Waktu
Salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi TOEFL dan IELTS adalah manajemen waktu yang ketat. Setiap bagian tes memiliki batas waktu spesifik, misalnya 60-80 menit untuk Reading di TOEFL atau 40 menit untuk Writing Task 1 dan 2 di IELTS, yang sering membuat peserta panik dan membuat kesalahan konyol meskipun materinya dikuasai.
Banyak peserta tes yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik, namun gagal mencapai skor tinggi karena tidak terbiasa mengerjakan soal di bawah tekanan waktu. Mereka mungkin bisa menjawab dengan benar jika diberi waktu unlimited, tapi dalam kondisi real test, kecepatan menjadi faktor penentu. Oleh karena itu, building speed and accuracy secara simultan adalah prioritas utama.
Untuk mengatasinya, sangat disarankan untuk melakukan latihan soal dengan timer atau simulasi tes resmi dari ETS atau British Council. Gunakan aplikasi seperti TOEFL Practice Online (TPO) atau IELTS Liz simulator. Dengan demikian, kamu bisa melatih kecepatan membaca (skimming untuk main idea, scanning untuk detail), menulis esai dalam 250 kata dalam 40 menit, mendengarkan lecture sambil note-taking, dan berbicara dengan recorder untuk self-review.
Cobalah lakukan simulasi lengkap setidaknya seminggu sekali, idealnya di pagi hari untuk mensimulasikan kondisi tes resmi. Evaluasi hasilnya secara detail: cari tahu bagian mana yang paling banyak memakan waktu (misalnya multiple-choice questions di Listening), hitung error rate, dan buat strategi khusus seperti time allocation (e.g., 1 menit per soal di Reading). Gunakan pomodoro technique untuk latihan harian: 25 menit fokus + 5 menit istirahat.
Latihan berbasis waktu ini juga akan membantu kamu untuk membiasakan diri dengan tekanan psikologis saat tes sesungguhnya, seperti detak jantung yang meningkat atau pikiran yang blank. Lama-kelamaan, Anda akan mengembangkan mental resilience yang membuat tes terasa seperti rutinitas biasa. Banyak test-taker yang skornya naik 10-15 poin hanya dengan rutin simulasi selama 2 bulan.
3. Fokus Lebih pada Kelemahan
Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing dalam belajar bahasa, yang dipengaruhi oleh background, gaya belajar, dan pengalaman sebelumnya. Ada yang unggul dalam listening karena sering mendengarkan musik Barat, namun kesulitan dalam writing karena kurang latihan struktur esai. Ada pula yang lancar berbicara secara casual, tapi sulit memahami teks akademik yang penuh dengan vocabulary specialized seperti di Reading passage TOEFL.
Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan evaluasi diri secara berkala menggunakan diagnostic test dari official sources. Identifikasi bagian mana dari tes yang paling menantang bagi kamu—apakah Speaking (fluency vs accuracy), Writing (grammar range vs task achievement), atau yang lain. Setelah itu, alokasikan 60-70% waktu belajar untuk memperbaiki kelemahan tersebut, sementara 30-40% untuk mempertahankan kekuatan.
Misalnya, jika kamu merasa writing adalah bagian tersulit, cobalah untuk rutin menulis esai minimal 3 kali seminggu dengan topik dari Cambridge IELTS books, lalu meminta feedback dari tutor, online communities seperti Reddit r/IELTS, atau tools AI seperti Grammarly premium. Pelajari criteria penilaian resmi: untuk IELTS, fokus pada Task Response, Coherence, Lexical Resource, dan Grammatical Range.
Jika listening menjadi kendala, perbanyak mendengarkan podcast seperti BBC Learning English, NPR, atau TED Talks dengan transkrip. Latih note-taking techniques seperti abbreviation (e.g., info → information) dan prediction skills. Ingat, meningkatkan kelemahan akan memberikan dampak signifikan terhadap skor keseluruhanmu karena setiap section berkontribusi equal weight. Pendekatan targeted ini sering disebut sebagai 80/20 rule dalam test prep: 20% effort pada weak areas menghasilkan 80% improvement.
4. Bangun Konsistensi dan Berikan Self-Reward
Belajar untuk tes seperti TOEFL dan IELTS bukanlah sprint yang bisa diselesaikan dalam semalam, melainkan maraton yang memerlukan stamina mental dan fisik jangka panjang. Prosesnya memakan waktu 3-6 bulan atau lebih, tergantung starting level, dan membutuhkan dedikasi tanpa henti. Banyak yang gagal karena burnout akibat belajar intensif sporadis.
Oleh karena itu, konsistensi adalah kunci utama. Tidak perlu belajar berjam-jam dalam satu hari yang justru menyebabkan kelelahan; cukup luangkan waktu setiap hari, walau hanya 30–60 menit, untuk berlatih secara focused. Gunakan habit stacking: hubungkan dengan rutinitas existing, seperti belajar vocabulary sambil commuting atau listening practice saat olahraga.
Baca juga: 3 Kota dengan Biaya Hidup Termurah di Korea Selatan
Agar tidak merasa jenuh dan monoton, buatlah jadwal belajar yang variatif dan menarik dengan prinsip gamification. Kamu bisa mengatur sesi belajar dengan kombinasi kegiatan seperti menulis esai tentang current issues, membaca artikel ilmiah dari Nature atau JSTOR, menonton video edukatif di Khan Academy, atau melakukan diskusi online dalam bahasa Inggris melalui platforms seperti Discord IELTS groups atau Tandem app untuk language exchange.
Jangan lupa untuk memberi penghargaan pada diri sendiri setelah mencapai target kecil, misalnya menonton film favorit di bioskop setelah berhasil menyelesaikan satu set modul latihan, membeli makanan kesukaan seperti bubble tea setelah menyelesaikan simulasi tes dengan skor target, atau bahkan libur sehari penuh setelah milestone bulanan. Self-reward ini berfungsi sebagai motivasi tambahan berbasis dopamine agar semangat belajar tetap terjaga dan mencegah procrastination. Psikolog dari Harvard menyarankan reward system ini untuk membentuk positive reinforcement loop.
5. Pahami Format dan Struktur Tes
Salah satu faktor penting yang menentukan kesuksesan dalam belajar TOEFL maupun IELTS adalah pemahaman mendalam terhadap format tes. Tanpa ini, Anda mungkin membuang waktu untuk mempelajari hal yang tidak relevan. Dengan mengetahui jenis soal, alokasi waktu, dan sistem penilaian resmi, kamu bisa merancang strategi yang lebih efektif, efisien, dan targeted saat mengerjakan tes.
Untuk TOEFL iBT misalnya, kamu akan menghadapi empat bagian utama: Reading (3-4 passages, 54-72 menit), Listening (4-6 lectures + conversations, 41-57 menit), Speaking (4 tasks, 17 menit), dan Writing (2 tasks, 50 menit). Integrated tasks seperti summarize spoken text menjadi ciri khas. Sedangkan IELTS memiliki dua versi, yaitu Academic (untuk studi) dan General Training (untuk imigrasi/kerja), dengan struktur serupa: Listening (30 menit), Reading (60 menit), Writing (60 menit), Speaking (11-14 menit), namun tujuan dan tingkat kesulitan berbeda—Academic lebih fokus pada graph description dan abstract topics.
Luangkanlah waktu minimal 1 minggu awal untuk memahami instruksi di setiap bagian melalui official guides, cara menjawab soal (e.g., drag-and-drop di TOEFL computer), serta teknik-teknik tertentu seperti skimming (baca cepat untuk gist) dan scanning (cari keyword) untuk Reading, metode brainstorming 5 menit + outline untuk Writing Task 2, atau PAR method (Purpose, Action, Result) untuk Speaking responses. Pelajari juga common traps seperti distractors di multiple-choice.
Pengetahuan ini tidak hanya membuat kamu lebih percaya diri dan mengurangi anxiety, tetapi juga meningkatkan efisiensi saat tes berlangsung hingga 20-30%. Banyak peserta yang skornya stagnan di 6.5 IELTS berhasil naik ke 7.5 hanya dengan mastering the test format. Jadikan ini fondasi sebelum diving into content practice.
6. Gunakan Sumber Belajar yang Kredibel
Di era digital ini, banyak sekali materi dan sumber belajar yang tersedia secara online maupun offline, mulai dari free YouTube videos hingga paid courses. Namun, tidak semua sumber tersebut kredibel, up-to-date dengan format tes terbaru, dan sesuai dengan standar tes resmi yang sering mengalami minor updates setiap tahun.
Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk memilih materi dari sumber terpercaya, seperti buku resmi ETS untuk TOEFL (The Official Guide to the TOEFL Test), Cambridge untuk IELTS (Cambridge IELTS 1-18 series), atau platform belajar yang telah diakui seperti British Council LearnEnglish, ETS TOEFL Go app, atau Magoosh. Hindari sumber pirated atau outdated yang bisa menyesatkan.
Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan aplikasi belajar interaktif seperti Duolingo untuk daily vocab, Quizlet untuk flashcards, bergabung dengan forum belajar seperti TOEFL Reddit atau IELTS Facebook groups untuk sharing experiences, atau mengikuti channel YouTube kredibel yang fokus membahas strategi dan tips tes TOEFL/IELTS, seperti E2 IELTS atau TOEFL TV Official. Kombinasikan dengan official practice tests untuk validasi progress. Diversifikasi sumber akan memberikan perspektif holistik dan mencegah plateau.
7. Pertimbangkan Mengikuti Kursus atau Bimbingan Profesional
Jika kamu merasa belajar secara mandiri kurang efektif—misalnya sulit self-motivated, kurang feedback objektif, atau progress lambat—mengikuti kursus atau bimbingan adalah langkah yang sangat bijak dan investasi jangka panjang. Data dari ETS menunjukkan bahwa peserta dengan prep course memiliki average score 5-10 poin lebih tinggi.
Dengan bimbingan dari tutor berpengalaman yang certified (e.g., CELTA for IELTS), kamu tidak hanya mendapatkan materi yang terstruktur dan customized, tetapi juga feedback langsung terhadap performa kamu, seperti pronunciation correction di Speaking atau coherence issues di Writing. Ini sulit didapat dari self-study saja.
Baca juga: Profesi Populer yang Banyak Dicari oleh Perusahaan Jerman
Kursus biasanya juga menyediakan simulasi tes secara rutin dengan scoring resmi, sesi diskusi kelompok untuk Speaking practice, latihan writing dan speaking yang diawasi dengan rubric detail, serta strategi khusus untuk menjawab soal tricky seperti inference questions atau two-sided argument essays. Beberapa bahkan menawarkan guarantee score atau money-back policy.
Ini akan sangat membantu kamu dalam membangun kepercayaan diri, mempercepat proses belajar dari bulan ke minggu, dan menghindari bad habits. Pilih kursus dengan small class size (max 10 siswa) untuk personalized attention. Banyak alumni yang testify bahwa joining professional course adalah turning point dalam journey mereka menuju skor impian.
Pilihan Terbaik untuk Meningkatkan Skor TOEFL dan IELTS
Jika kamu sedang mencari tempat kursus terpercaya yang dapat membantu dalam meraih skor maksimal dalam TOEFL maupun IELTS, Ultimate Education adalah pilihan terbaik di Indonesia dengan track record proven dan testimoni ratusan siswa sukses.
Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam membimbing siswa dari berbagai latar belakang—mulai dari fresh graduate, professional, hingga pelajar SMA—Ultimate Education menyediakan program kursus TOEFL iBT, TOEFL ITP, dan IELTS yang dirancang secara sistematis, berbasis data analytics progress, dan sesuai dengan kebutuhan individu melalui placement test awal.
Setiap siswa akan dibimbing oleh instruktur profesional yang telah tersertifikasi internasional (ETS/IELTS trained) dan berpengalaman mengajar ribuan jam, serta mendapatkan akses ke materi eksklusif seperti predicted questions, latihan intensif berbasis soal-soal resmi terbaru, dan library digital dengan ratusan practice sets.
Tak hanya itu, Ultimate Education juga menawarkan simulasi tes rutin setiap minggu dengan computer-based environment mirip real test, evaluasi performa berkala melalui detailed reports dan one-on-one consultations, serta strategi belajar yang dipersonalisasi sesuai kekuatan (e.g., leveraging strong reading for integrated tasks) dan kelemahanmu (e.g., intensive grammar modules).
Tidak masalah jika kamu pemula dengan skor awal 4.0 IELTS atau sudah pernah mengikuti tes sebelumnya tapi stuck di plateau, program di Ultimate Education akan membantu untuk mencapai skor impian—band 7.0+ atau 100+ TOEFL—dengan cara yang efisien, menyenangkan, dan berorientasi hasil melalui blended learning (online + offline).
Jangan tunda kesuksesanmu! Bergabunglah bersama ratusan siswa lain yang telah membuktikan kualitas Ultimate Education sebagai lembaga kursus TOEFL dan IELTS terbaik, dengan success rate di atas 90% untuk target score. Banyak yang kini kuliah di luar negeri atau bekerja di MNC berkat bimbingan kami.
Wujudkan cita-cita kamu ke tingkat global, mulai dari sini. Ultimate Education – Langkah Pertama Menuju Dunia yang Lebih Besar.
