Homesick Saat Kuliah di Eropa? Santai, Ini Cara Waras Buat Ngelewatinnya

kuliah di eropa

Kuliah di Eropa sering kali terdengar seperti mimpi yang jadi kenyataan. Bangun pagi lihat bangunan klasik, naik transportasi umum yang rapi, nongkrong di kafe kecil sambil ngerjain tugas, dan ketemu teman-teman dari berbagai negara. Namun, di balik keindahan arsitektur bersejarah dan kehidupan kota yang dinamis, kuliah di Eropa juga membawa tantangan unik bagi mahasiswa internasional, terutama dari negara-negara Asia seperti Indonesia. Pengalaman ini tidak hanya tentang akademik, tapi juga tentang adaptasi budaya dan emosional yang mendalam.

Tapi di balik semua vibes estetik itu, ada satu hal yang hampir pasti dialami mahasiswa internasional, yaitu homesick. Rasa kangen rumah ini nggak peduli kamu sekuat apa mentalnya. Homesick sering kali muncul sebagai respons alami terhadap perubahan besar dalam hidup, di mana segala sesuatu yang familiar tiba-tiba hilang, digantikan oleh rutinitas baru yang asing. Ini bisa memengaruhi konsentrasi belajar, kesehatan fisik, dan bahkan hubungan sosial jika tidak ditangani dengan baik.

Mau kamu super mandiri atau sudah biasa jauh dari keluarga, begitu pindah negara dengan budaya, bahasa, dan kebiasaan yang beda total, homesick bisa muncul pelan-pelan. Kadang datang tiba-tiba, kadang muncul pas lagi capek atau sendirian. Faktor-faktor seperti perbedaan waktu yang signifikan, cuaca yang lebih dingin, atau bahkan perbedaan dalam gaya komunikasi sosial bisa memperburuk perasaan ini. Penting untuk mengenali gejala awal, seperti sering merasa sedih tanpa alasan jelas atau kehilangan nafsu makan, agar bisa segera mengambil langkah pencegahan.

Homesick bukan tanda kamu lemah. Justru itu tanda kalau kamu manusia normal yang punya ikatan emosional dengan rumah. Nah, biar rasa kangen ini nggak berubah jadi stres berkepanjangan, ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan supaya tetap waras dan enjoy selama kuliah di Eropa. Tips-tips ini didasarkan pada pengalaman banyak mahasiswa internasional yang telah berhasil melewati fase ini, dan bisa disesuaikan dengan situasi pribadi masing-masing. Dengan menerapkan strategi ini secara konsisten, kamu bisa mengubah pengalaman kuliah di Eropa menjadi petualangan yang lebih menyenangkan dan membangun karakter.

Baca juga: Ini Daftar Negara yang Tidak Melakukan Diskriminasi Umur saat Perekrutan Pegawainya

Cari Makanan yang Familiar, Karena Rindu Sering Kali Datang dari Perut

Percaya atau nggak, salah satu pemicu homesick paling kuat itu makanan. Lidah kita tuh punya memori. Begitu mencium aroma atau ngerasain rasa tertentu, otak langsung kelempar ke rumah. Itulah kenapa tiba-tiba bisa mellow cuma gara-gara lihat nasi goreng di Instagram. Makanan tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tapi juga emosional, karena sering kali terkait dengan kenangan keluarga dan tradisi budaya. Di Eropa, di mana diet dominan berbasis roti, keju, dan daging olahan, mahasiswa dari Indonesia mungkin merasa kehilangan rasa pedas, manis, atau gurih yang khas dari masakan rumah.

Di Eropa, makanan lokal memang unik dan menarik buat dicoba. Tapi kalau tiap hari harus makan keju, roti, atau makanan yang rasanya asing, lama-lama tubuh dan hati bisa protes. Solusinya bukan berarti anti makanan lokal, tapi seimbangin dengan makanan yang familiar. Cobalah untuk mengintegrasikan makanan Eropa dengan sentuhan Indonesia, seperti menambahkan sambal ke pizza atau membuat sandwich dengan isian ayam kecap. Ini bisa menjadi cara kreatif untuk menjaga keseimbangan antara adaptasi dan kenyamanan.

Coba cari toko Asia atau toko Indonesia kalau ada di kota kamu. Banyak kota besar di Eropa yang punya Asian market. Masak sendiri makanan sederhana seperti mie instan, nasi telur, atau tumisan ala rumah bisa jadi penyelamat mood. Selain itu, belajar memasak resep sederhana dari rumah bisa menjadi hobi baru yang terapeutik, membantu mengisi waktu luang dan mengurangi rasa kesepian. Kamu juga bisa berbagi masakan dengan teman-teman internasional untuk memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus memperkuat ikatan sosial.

Kalau masak nggak memungkinkan, cari restoran Asia atau Indonesia buat sekadar ngilangin kangen. Makanan familiar itu bukan soal mewah atau nggak. Kadang sepiring mie instan dengan telur bisa jauh lebih healing daripada makanan fancy tapi bikin kamu makin kangen rumah. Ingat, menjaga nutrisi yang baik juga penting karena kekurangan gizi bisa memperburuk gejala homesick, seperti kelelahan atau mood swing. Jadi, pastikan asupan makananmu tetap seimbang dan bervariasi untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan selama kuliah di Eropa.

Buat Rutinitas Harian Biar Hidup Nggak Terasa Kosong

Salah satu alasan homesick makin parah adalah karena hidup terasa nggak teratur. Bangun tidur bingung mau ngapain, kelas belum mulai, teman belum punya, akhirnya pikiran ke mana-mana. Dari situ, rasa kangen rumah gampang banget muncul. Ketidakpastian dalam rutinitas harian bisa membuat pikiran lebih rentan terhadap pikiran negatif, terutama di lingkungan baru di mana segala sesuatu memerlukan penyesuaian ekstra, seperti navigasi transportasi umum atau beradaptasi dengan jadwal kuliah yang fleksibel.

Makanya, penting banget buat bikin rutinitas harian. Nggak harus kaku kayak jadwal militer, tapi cukup punya pola yang konsisten. Misalnya jam bangun yang sama setiap hari, waktu khusus buat belajar, olahraga ringan, atau sekadar jalan sore. Mulailah dengan hal-hal kecil, seperti minum kopi di pagi hari sambil membaca berita dari Indonesia, atau melakukan stretching sebelum tidur untuk merelaksasi tubuh setelah hari yang panjang.

Rutinitas bikin hidup terasa lebih stabil. Kamu jadi punya pegangan dan tujuan setiap hari. Otak juga lebih fokus ke aktivitas daripada ke rasa sepi. Lama-lama, tempat baru ini nggak lagi terasa asing karena kamu sudah punya ritme sendiri. Selain itu, rutinitas bisa membantu meningkatkan produktivitas akademik, karena kamu akan lebih disiplin dalam mengatur waktu antara belajar, istirahat, dan eksplorasi, yang pada akhirnya membuat pengalaman kuliah di Eropa lebih bermakna dan kurang overwhelming.

Rutinitas juga bikin kamu merasa lebih “punya kendali” atas hidupmu, meskipun sedang jauh dari rumah. Ini bisa menjadi fondasi kuat untuk membangun kepercayaan diri, terutama saat menghadapi tantangan seperti ujian atau proyek kelompok di universitas Eropa yang sering kali menekankan pada kerja mandiri dan inisiatif pribadi.

Jelajahi Lingkungan Sekitar, Jangan Cuma Ngurung Diri

Wajar kalau di awal kamu lebih sering ngurung diri di kamar karena masih canggung atau takut salah. Tapi kalau kebiasaan ini diterusin, homesick bisa makin menjadi. Lingkungan baru nggak akan pernah terasa nyaman kalau kamu nggak kasih kesempatan buat kenal. Isolasi diri bisa memperburuk perasaan kesepian, karena kurangnya interaksi dengan dunia luar membuat pikiran lebih fokus pada apa yang hilang daripada apa yang bisa didapatkan di tempat baru.

Coba pelan-pelan eksplor sekitar. Jalan kaki keliling kampus, cari taman terdekat, nongkrong di kafe kecil, atau sekadar duduk di ruang publik sambil lihat orang lalu-lalang. Aktivitas simpel ini bisa bantu kamu merasa lebih terhubung dengan tempat baru. Di Eropa, banyak kota yang ramah pejalan kaki dengan jalur sepeda dan taman hijau yang indah, yang bisa menjadi tempat ideal untuk relaksasi dan refleksi diri sambil menikmati udara segar.

Baca juga: Bikin Bangga! Ini 5 Brand Global yang Aslinya Milik Perusahaan Indonesia!

Eropa punya banyak ruang publik yang nyaman buat jalan santai atau refleksi diri. Kadang, jalan kaki sambil pakai headset dan dengerin lagu favorit bisa jadi terapi gratis. Kamu nggak harus selalu rame-rame, yang penting kamu keluar dari zona kamar. Cobalah untuk mengunjungi landmark lokal, museum, atau pasar tradisional untuk memahami lebih dalam tentang budaya setempat, yang bisa membantu mengalihkan perhatian dari homesick dan membuka peluang baru untuk pengalaman berkesan.

Semakin kamu kenal lingkungan sekitar, semakin cepat rasa “asing” itu berkurang. Proses ini juga bisa meningkatkan rasa percaya diri dalam navigasi sehari-hari, seperti menggunakan transportasi umum atau berbelanja di supermarket lokal, yang pada akhirnya membuat kehidupan kuliah di Eropa terasa lebih seperti rumah sendiri.

Ingat, Homesick Itu Normal dan Nggak Perlu Dilawan

Salah satu kesalahan terbesar saat homesick adalah ngerasa bersalah karena kangen rumah. Ada pikiran kayak, “Aku kan sudah di luar negeri, masa nggak bahagia?” atau “Aku harusnya bersyukur, kok malah sedih?” Perasaan bersalah ini justru bisa memperburuk situasi, karena menambah beban emosional di atas rasa kangen yang sudah ada.

Stop. Perasaan nggak bisa diatur dengan logika semata. Kamu bisa bersyukur sekaligus kangen rumah di waktu yang sama. Itu bukan hal yang saling bertentangan. Mengakui emosi ini adalah langkah pertama menuju pemulihan, karena memungkinkan kamu untuk memproses perasaan tersebut secara sehat tanpa penyangkalan.

Homesick adalah fase adaptasi. Hampir semua mahasiswa internasional mengalaminya, bahkan yang kelihatannya santai dan happy di media sosial. Bedanya, ada yang berani ngakuin, ada yang memilih memendam. Studi menunjukkan bahwa sekitar 70% mahasiswa internasional mengalami homesick dalam tingkat tertentu selama tahun pertama mereka di luar negeri, jadi kamu benar-benar tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Dengan menerima bahwa homesick itu normal, kamu jadi nggak terlalu keras sama diri sendiri. Kamu bisa bilang, “Oke, aku lagi kangen rumah, dan itu nggak apa-apa.” Dari situ, perasaan biasanya lebih cepat reda daripada dipaksa hilang. Praktik mindfulness, seperti meditasi singkat atau journaling tentang hal-hal positif di hari itu, bisa membantu dalam menerima dan melepaskan emosi ini secara bertahap.

Cari Dukungan Sosial, Jangan Jalanin Sendiri

Jauh dari rumah bukan berarti kamu harus sendirian. Justru, ini saatnya kamu bangun circle baru, sekecil apa pun itu. Dukungan sosial itu penting banget buat kesehatan mental, apalagi di lingkungan asing. Penelitian menunjukkan bahwa memiliki jaringan sosial yang kuat dapat mengurangi risiko depresi dan kecemasan pada mahasiswa internasional.

Mulai dari hal sederhana. Ngobrol sama teman sekelas, ikut komunitas mahasiswa internasional, atau gabung organisasi kampus. Kalau ketemu sesama orang Indonesia, itu bonus, tapi jangan batasi diri cuma di situ saja. Bergabung dengan klub olahraga, kelompok studi, atau acara budaya bisa menjadi cara efektif untuk bertemu orang baru dan berbagi pengalaman serupa tentang adaptasi di Eropa.

Punya teman dari berbagai negara bisa bantu kamu merasa lebih “nyambung” dengan lingkungan sekitar. Kamu jadi sadar kalau kamu nggak sendirian dalam proses adaptasi ini. Banyak orang lain yang juga lagi berjuang dengan rasa kangen, budaya baru, dan tekanan akademik. Berbagi cerita tentang homesick bisa menjadi ikatan yang kuat, dan sering kali menghasilkan solusi kreatif dari perspektif berbeda.

Kalau lagi berat banget, jangan ragu buat cerita ke orang yang kamu percaya, entah itu teman, senior, atau keluarga di rumah lewat video call. Teknologi seperti Zoom atau WhatsApp memungkinkan kamu tetap terhubung dengan orang tercinta, meskipun terpisah oleh benua, yang bisa menjadi sumber kekuatan emosional selama masa-masa sulit.

Tetap Jaga Kesehatan Mental, Karena Ini Bukan Hal Sepele

Homesick yang dibiarkan terlalu lama bisa berdampak ke kesehatan mental. Mulai dari susah tidur, kehilangan motivasi belajar, sampai merasa kosong berkepanjangan. Kalau kamu mulai ngerasa hal-hal ini, itu tanda kamu perlu lebih perhatian sama diri sendiri. Gejala ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius jika diabaikan, seperti anxiety disorder atau depresi, yang memengaruhi performa akademik dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Lakukan hal-hal kecil yang bikin kamu merasa “pulang”, meskipun secara fisik jauh. Dengerin musik favorit, nonton film Indonesia, nulis jurnal, atau melakukan hobi yang biasa kamu lakukan di rumah. Aktivitas ini bisa menjadi anchor emosional, membantu mengingatkan kamu pada identitas dan nilai-nilai yang dibawa dari rumah sambil menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Jangan ragu juga buat manfaatin layanan konseling kampus kalau tersedia. Banyak universitas di Eropa punya support system buat mahasiswa internasional. Minta bantuan bukan berarti kamu gagal, justru itu tanda kamu peduli sama diri sendiri. Layanan ini sering kali gratis dan rahasia, dengan konselor yang terlatih dalam menangani isu adaptasi budaya dan homesick.

Kesehatan mental sama pentingnya dengan nilai akademik. Kuliah di luar negeri itu marathon, bukan sprint. Kamu perlu kondisi mental yang stabil buat bisa menikmati prosesnya. Integrasikan praktik self-care seperti tidur cukup, makan sehat, dan berolahraga secara rutin untuk menjaga keseimbangan, sehingga kamu bisa fokus pada tujuan utama: meraih pendidikan berkualitas di Eropa sambil tumbuh secara pribadi.

Baca juga: Gini Doang Digaji Miliaran? Ini Dia Profesi di Jerman yang Bikin Dompet Auto Gendut!

Homesick Bukan Akhir, Tapi Bagian dari Perjalanan

Seiring waktu, rasa homesick biasanya akan berkurang. Bukan karena kamu berhenti kangen rumah, tapi karena kamu mulai merasa “punya rumah kedua” di tempat baru. Kamu mulai punya rutinitas, teman, tempat favorit, dan kenangan sendiri. Proses ini sering disebut sebagai culture integration, di mana kamu tidak hanya bertahan tapi benar-benar berkembang di lingkungan baru.

Setiap kali kamu berhasil melewati hari berat, kamu sedang membangun mental yang lebih kuat. Pengalaman ini bakal jadi bekal berharga, bukan cuma buat kuliah, tapi juga buat hidup ke depannya. Banyak alumni kuliah di Eropa yang mengatakan bahwa mengatasi homesick adalah salah satu pelajaran terbesar yang membuat mereka lebih resilien dan adaptif dalam karir global.

Kuliah di Eropa bukan cuma soal gelar, tapi juga soal tumbuh sebagai individu yang lebih mandiri dan dewasa secara emosional. Pengalaman ini bisa membuka pintu peluang baru, seperti jaringan internasional dan pemahaman lintas budaya yang berharga di dunia kerja modern yang semakin global.

Siapkan Diri Lebih Matang Sebelum Berangkat ke Luar Negeri

Biar proses adaptasi kuliah di Eropa terasa lebih ringan, persiapan dari awal itu penting banget, terutama soal kemampuan bahasa dan tes internasional. Di sinilah Ultimate Education bisa jadi partner terbaik buat kamu yang lagi ngejar mimpi kuliah ke luar negeri. Persiapan yang matang tidak hanya tentang nilai tes, tapi juga membangun mindset yang siap menghadapi tantangan seperti homesick dan culture shock.

Ultimate Education menyediakan kursus dan bimbingan IELTS, TOEFL iBT, TOEFL iTP, GMAT, GRE, ACT, GED, TOEIC, IGCSE, SAT, hingga PTE, lengkap dengan pengajar berpengalaman dan metode belajar yang fokus ke kebutuhan masing-masing siswa. Program ini dirancang untuk membantu siswa mencapai skor optimal sambil mengembangkan keterampilan bahasa yang praktis untuk kehidupan sehari-hari di Eropa.

Nggak cuma itu, tersedia juga jasa penerjemah profesional buat bantu kebutuhan dokumen akademik dan administrasi. Layanan ini memastikan bahwa semua dokumenmu akurat dan sesuai standar internasional, menghindari masalah administratif yang bisa menambah stres sebelum keberangkatan.

Kalau kamu pengin persiapan yang matang, terarah, dan nggak bikin stres sebelum berangkat ke Eropa atau negara tujuan lainnya, Ultimate Education bisa jadi rekomendasi tempat kursus terbaik buat nemenin langkahmu dari awal sampai goal tercapai. Dengan dukungan ini, kamu tidak hanya siap secara akademik, tapi juga emosional, sehingga bisa lebih cepat mengatasi homesick dan menikmati sepenuhnya pengalaman kuliah di Eropa.