
Di banyak tempat, usia masih sering jadi “tembok tak terlihat” saat seseorang ingin bekerja. Ada yang dianggap terlalu muda dan kurang pengalaman, ada juga yang dinilai sudah “kelewat umur” meskipun skill dan jam terbangnya masih relevan. Fenomena ini tidak hanya membatasi peluang individu, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan karena kehilangan potensi dari beragam kelompok usia. Padahal, di era digital dan globalisasi saat ini, keragaman usia dalam tim kerja bisa membawa inovasi dan perspektif yang lebih luas.
Padahal, kemampuan seseorang nggak selalu bisa diukur dari angka di KTP. Untungnya, nggak semua negara punya cara pandang kayak gitu. Beberapa negara justru sudah melangkah lebih maju dengan menerapkan regulasi ketenagakerjaan yang melarang diskriminasi usia. Kebijakan-kebijakan ini tidak hanya melindungi hak-hak pekerja, tetapi juga mendorong perusahaan untuk fokus pada meritokrasi, di mana prestasi dan kemampuan menjadi ukuran utama. Selain itu, dengan adanya regulasi ini, masyarakat di dorong untuk terus belajar sepanjang hayat, yang pada akhirnya meningkatkan daya saing negara tersebut di kancah internasional.
Artinya, selama seseorang punya kompetensi dan memenuhi kualifikasi, umur bukan alasan buat menutup pintu kesempatan kerja. Artikel ini bakal ngebahas deretan negara yang secara hukum dan praktik relatif lebih adil dalam urusan usia kerja, lengkap dengan regulasi yang jadi dasarnya. Kita akan menjelajahi bagaimana negara-negara ini menerapkan aturan tersebut dalam praktik sehari-hari, beserta contoh-contoh nyata yang bisa menjadi inspirasi. Selain itu, pembahasan ini juga akan menyentuh dampak positif dari kebijakan anti-diskriminasi usia terhadap produktivitas tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat secara umum.
Baca juga: Bikin Bangga! Ini 5 Brand Global yang Aslinya Milik Perusahaan Indonesia!
Kenapa Isu Diskriminasi Usia Masih Relevan?
Diskriminasi usia di dunia kerja itu nyata dan masih sering kejadian. Fresh graduate sering mentok karena lowongan minta pengalaman minimal sekian tahun, sementara pekerja senior kerap tersingkir karena dianggap kurang adaptif atau “mahal”. Masalah ini semakin relevan di tengah perubahan demografi global, di mana banyak negara menghadapi populasi yang menua, sementara generasi muda menghadapi persaingan ketat di pasar kerja. Menurut laporan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO), diskriminasi usia dapat menyebabkan hilangnya produktivitas hingga miliaran dolar setiap tahunnya, karena banyak talenta berpotensi yang terbuang sia-sia.
Padahal, realitanya dunia kerja butuh kombinasi energi, pengalaman, dan sudut pandang yang beragam. Di era global sekarang, mobilitas tenaga kerja makin tinggi. Banyak orang mulai melirik peluang kerja di luar negeri atau remote untuk perusahaan asing. Keragaman usia dalam tim bisa memicu kreativitas, seperti bagaimana pemikiran inovatif dari generasi muda dikombinasikan dengan kebijaksanaan dari pekerja senior untuk menyelesaikan masalah kompleks. Selain itu, perusahaan yang inklusif terhadap usia cenderung memiliki tingkat retensi karyawan yang lebih tinggi dan reputasi yang lebih baik di mata calon talenta.
Nah, memahami negara mana saja yang punya kebijakan adil soal usia jadi penting, apalagi buat kamu yang pengin berkarier internasional tanpa harus khawatir soal umur. Dengan mengetahui regulasi ini, kamu bisa merencanakan strategi karier yang lebih matang, seperti memilih negara tujuan yang mendukung pengembangan diri sepanjang hayat. Tips sederhana: Mulailah dengan membangun portofolio yang kuat dan terus update skill melalui kursus online atau sertifikasi, sehingga usia tidak lagi menjadi hambatan utama dalam pencarian kerja global.
Singapura: Workplace Fairness Legislation Bill
Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem ketenagakerjaan yang modern dan kompetitif. Lewat Workplace Fairness Legislation Bill, pemerintah Singapura menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan kerja yang adil dan inklusif, termasuk dalam hal usia. Undang-undang ini dirancang untuk mengatasi berbagai bentuk diskriminasi, termasuk yang berbasis usia, dengan memberikan sanksi tegas bagi perusahaan yang melanggar. Sejak diterapkan, regulasi ini telah membantu ribuan pekerja dari berbagai kelompok usia untuk mendapatkan kesempatan yang setara.
Aturan ini menekankan bahwa perekrutan, promosi, hingga pemutusan hubungan kerja harus berbasis pada merit dan kemampuan, bukan usia. Perusahaan didorong untuk menilai kandidat dari skill, pengalaman, dan performa kerja. Dalam praktiknya, banyak perusahaan di Singapura kini menerapkan sistem evaluasi berbasis kompetensi, seperti menggunakan asesmen berbasis AI yang netral terhadap usia, untuk memastikan proses seleksi yang adil. Ini tidak hanya meningkatkan keberagaman tim, tetapi juga mendorong inovasi di sektor-sektor seperti teknologi dan keuangan yang menjadi andalan ekonomi Singapura.
Buat pekerja senior, kebijakan ini membuka peluang untuk tetap aktif dan produktif. Sementara bagi pekerja muda, kesempatan tetap terbuka selama mereka bisa menunjukkan kompetensi. Contohnya, program seperti SkillsFuture Credit yang diberikan pemerintah memungkinkan semua warga, regardless of age, untuk mengakses kursus pelatihan seumur hidup, sehingga pekerja senior bisa update skill digital dan tetap kompetitif di pasar kerja yang cepat berubah.
Singapura juga aktif mendorong upskilling dan reskilling, terutama untuk pekerja berusia matang. Jadi, bukan cuma melarang diskriminasi, tapi juga menyediakan ekosistem yang mendukung semua usia untuk berkembang. Insight menarik: Dengan pendekatan ini, Singapura berhasil mempertahankan tingkat pengangguran rendah di bawah 3%, bahkan di tengah pandemi, karena tenaga kerja yang adaptif dan inklusif. Bagi kamu yang tertarik bekerja di sana, fokuslah pada penguasaan bahasa Inggris dan skill teknis, karena itu yang paling dicari oleh perusahaan multinasional di Singapura.
Vietnam: Kode Ketenagakerjaan 2019
Vietnam termasuk negara Asia Tenggara yang progresif dalam pembaruan regulasi tenaga kerja. Kode Ketenagakerjaan 2019 menjadi tonggak penting karena menegaskan prinsip kesetaraan dan non-diskriminasi, termasuk terkait usia. Reformasi ini datang di saat Vietnam sedang mengalami boom ekonomi, dengan pertumbuhan PDB rata-rata di atas 6% per tahun, yang membutuhkan suplai tenaga kerja yang beragam untuk mendukung industri manufaktur, teknologi, dan pariwisata.
Dalam praktiknya, hukum ketenagakerjaan Vietnam melindungi hak pekerja tanpa membedakan usia selama mereka memenuhi syarat pekerjaan. Reformasi ini sejalan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi Vietnam yang membutuhkan tenaga kerja dari berbagai kelompok usia dan latar belakang. Pemerintah Vietnam juga telah mengintegrasikan kebijakan ini dengan inisiatif seperti National Strategy on Active Ageing, yang bertujuan untuk memanfaatkan pengalaman pekerja senior dalam mentoring generasi muda, sehingga menciptakan transfer pengetahuan yang berkelanjutan.
Menariknya, Vietnam juga membuka ruang bagi pekerja lanjut usia untuk tetap bekerja dengan pengaturan tertentu, misalnya jam kerja yang lebih fleksibel atau jenis pekerjaan yang disesuaikan. Ini menunjukkan bahwa usia dipandang sebagai aset pengalaman, bukan beban. Contoh nyata: Di sektor IT yang berkembang pesat di Hanoi dan Ho Chi Minh City, banyak perusahaan seperti FPT Software yang merekrut programmer senior untuk memimpin proyek, sementara fresh graduate diberi kesempatan magang untuk belajar langsung dari mereka.
Baca juga: Gini Doang Digaji Miliaran? Ini Dia Profesi di Jerman yang Bikin Dompet Auto Gendut!
Australia: Age Discrimination Act 2004
Australia sudah cukup lama punya undang-undang khusus yang mengatur soal diskriminasi usia. Age Discrimination Act 2004 melarang perlakuan tidak adil berdasarkan usia di berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia kerja. Undang-undang ini telah menjadi model bagi banyak negara lain, dengan mekanisme pengaduan yang mudah diakses melalui Australian Human Rights Commission, di mana korban diskriminasi bisa mendapatkan dukungan hukum tanpa biaya besar.
Di Australia, diskriminasi usia bisa terjadi pada proses rekrutmen, pelatihan, promosi, hingga pemecatan. Semua itu dilarang secara hukum. Bahkan, iklan lowongan kerja yang menyebut batas usia tertentu tanpa alasan yang sah bisa dianggap melanggar hukum. Dalam praktiknya, perusahaan seperti Commonwealth Bank telah mengadopsi kebijakan “age-neutral” dalam rekrutmen, yang fokus pada kemampuan daripada usia, sehingga meningkatkan keragaman usia di tim mereka dan pada akhirnya meningkatkan inovasi produk.
Lingkungan kerja di Australia relatif terbuka untuk berbagai usia, mulai dari lulusan baru sampai profesional senior. Budaya kerja di sana juga cukup menghargai pengalaman dan keahlian, sehingga usia bukan faktor utama selama seseorang bisa menjalankan perannya dengan baik. Tips untuk pekerja potensial: Manfaatkan program seperti JobActive yang menyediakan pelatihan gratis untuk semua usia, dan pastikan CV kamu menekankan pencapaian konkret daripada tahun pengalaman, untuk menghindari bias usia secara tidak langsung.
Inggris: Equality Act 2010
Inggris punya Equality Act 2010 yang menjadi payung hukum besar untuk mencegah diskriminasi, termasuk diskriminasi usia. Undang-undang ini melindungi pekerja dan pelamar kerja dari perlakuan tidak adil karena usia, baik itu terlalu muda maupun terlalu tua. Sejak diberlakukan, act ini telah menangani ribuan kasus diskriminasi, membantu membentuk budaya kerja yang lebih inklusif di sektor swasta maupun publik.
Equality Act 2010 mengatur bahwa keputusan terkait pekerjaan harus didasarkan pada kemampuan dan kualifikasi, bukan asumsi soal usia. Misalnya, anggapan bahwa pekerja muda kurang bertanggung jawab atau pekerja tua sulit beradaptasi dianggap sebagai stereotip yang tidak bisa dijadikan dasar keputusan. Dalam konteks ini, perusahaan seperti Unilever telah menerapkan program mentorship lintas generasi, di mana pekerja senior berbagi pengalaman dengan yang muda, menciptakan lingkungan belajar yang saling menguntungkan.
Di dunia kerja Inggris, diversity dan inclusion jadi isu penting. Banyak perusahaan justru bangga punya tim lintas generasi karena dianggap bisa memperkaya perspektif dan meningkatkan kualitas kerja. Insight: Penelitian dari PwC menunjukkan bahwa perusahaan dengan keragaman usia memiliki tingkat inovasi 20% lebih tinggi, karena kombinasi ide segar dan pengalaman praktis. Bagi kamu yang ingin bekerja di Inggris, pertimbangkan untuk mendapatkan sertifikasi seperti CIPD untuk menunjukkan komitmen terhadap praktik HR yang inklusif.
Uni Eropa: Employment Equality Directive
Uni Eropa memiliki Employment Equality Directive yang berlaku di seluruh negara anggotanya. Direktif ini menetapkan standar minimum perlindungan terhadap diskriminasi di tempat kerja, termasuk diskriminasi usia. Direktif ini telah menjadi fondasi bagi undang-undang nasional di 27 negara anggota, memastikan harmonisasi standar ketenagakerjaan di seluruh benua.
Dengan adanya aturan ini, negara-negara anggota Uni Eropa wajib memastikan hukum nasional mereka melarang diskriminasi usia dalam rekrutmen, pelatihan, dan kondisi kerja. Walaupun implementasinya bisa sedikit berbeda di tiap negara, prinsip dasarnya tetap sama: usia tidak boleh jadi alasan perlakuan tidak adil. Misalnya, di Jerman, direktif ini diintegrasikan dengan Allgemeines Gleichbehandlungsgesetz (AGG), yang memberikan perlindungan ekstra bagi pekerja senior melalui program pensiun fleksibel.
Banyak negara di Uni Eropa kini fokus pada active ageing, yaitu mendorong masyarakat untuk tetap produktif di usia lanjut. Ini sejalan dengan perubahan demografi di Eropa yang memiliki populasi menua, sehingga pengalaman dan keahlian pekerja senior justru sangat dibutuhkan. Contoh: Di Swedia, perusahaan seperti IKEA menerapkan kebijakan “lifelong employment” yang mendukung karyawan semua usia melalui pelatihan berkelanjutan, menghasilkan loyalitas tinggi dan inovasi berkelanjutan.
Baca juga: S1 Cuma 3 Tahun? Negara Ini Cocok Banget Buat Kamu yang Gak Mau Kelamaan Kuliah
Amerika Serikat: Age Discrimination Act of 1975
Di Amerika Serikat, Age Discrimination Act of 1975 melarang diskriminasi berdasarkan usia dalam program atau aktivitas yang menerima dana federal. Selain itu, ada juga regulasi lain yang secara spesifik melindungi pekerja dari diskriminasi usia di dunia kerja. Act ini dilengkapi dengan Age Discrimination in Employment Act (ADEA) 1967, yang secara khusus melindungi pekerja berusia 40 tahun ke atas dari diskriminasi di sektor swasta.
Di AS, praktik ketenagakerjaan menekankan equal opportunity. Perusahaan dituntut untuk fokus pada skill, performa, dan kontribusi karyawan. Meski tantangan tetap ada, secara hukum pekerja punya landasan kuat untuk melawan diskriminasi usia. Organisasi seperti Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) menangani kasus-kasus ini, dengan ribuan tuntutan yang diselesaikan setiap tahun, sering kali menghasilkan kompensasi bagi korban dan perubahan kebijakan perusahaan.
Budaya kerja di Amerika juga relatif dinamis. Banyak profesional yang berganti karier di usia matang, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis baru. Hal ini menunjukkan bahwa usia bukan penghalang utama selama seseorang mau terus belajar dan berkembang. Tips: Jika kamu berencana bekerja di AS, gunakan platform seperti LinkedIn untuk membangun jaringan, dan sertakan testimoni dari proyek sebelumnya untuk menonjolkan kemampuan daripada usia. Selain itu, banyak perusahaan tech seperti Google telah menghapus persyaratan gelar formal, membuka pintu bagi pekerja semua usia yang punya skill relevan.
Apa Artinya Buat Kamu?
Deretan negara di atas menunjukkan bahwa tren global dunia kerja bergerak ke arah yang lebih inklusif. Usia perlahan ditinggalkan sebagai faktor penentu utama, digantikan oleh kompetensi, adaptabilitas, dan kemauan belajar. Ini adalah kabar baik bagi siapa saja yang ingin mengejar karier tanpa batas, karena semakin banyak peluang yang terbuka berdasarkan merit daripada stereotip usia. Namun, tren ini juga menuntut individu untuk terus berinvestasi pada diri sendiri, seperti melalui pendidikan berkelanjutan dan pengembangan skill.
Buat kamu yang punya rencana studi atau karier internasional, memahami kebijakan ketenagakerjaan ini bisa jadi bekal penting. Kamu bisa memilih negara yang sesuai dengan tahap karier kamu, misalnya Singapura untuk lingkungan kompetitif bagi pemula, atau Uni Eropa untuk dukungan active ageing bagi yang lebih senior. Selain itu, pengetahuan ini bisa membantu dalam negosiasi kontrak kerja atau persiapan visa, memastikan hak-hak kamu terlindungi dari awal.
Apalagi kalau kamu sedang mempersiapkan diri untuk kuliah, kerja, atau sertifikasi internasional, kemampuan bahasa dan skor tes standar jadi kunci utama agar bisa bersaing secara global. Jangan lupa, networking melalui platform internasional juga bisa membuka pintu kesempatan yang tidak terduga, terlepas dari usia kamu.
Persiapan Global Dimulai dari Sekarang
Kesempatan kerja tanpa diskriminasi usia tentu lebih maksimal kalau dibarengi dengan skill dan sertifikasi yang diakui secara internasional. Di sinilah persiapan matang jadi penentu. Mulailah dengan menilai kekuatan dan kelemahan diri kamu, lalu susun rencana pengembangan skill yang spesifik, seperti belajar bahasa asing atau menguasai tools digital yang relevan dengan industri target kamu.
Kemampuan bahasa Inggris, skor tes akademik, dan dokumen pendukung seperti terjemahan resmi sering kali jadi syarat utama untuk melangkah ke level global. Tanpa ini, bahkan di negara yang anti-diskriminasi, kamu mungkin kesulitan bersaing dengan kandidat lokal. Insight: Menurut World Economic Forum, skill seperti critical thinking dan problem-solving akan semakin penting di masa depan, jadi integrasikan itu dalam persiapan kamu.
Sebagai rekomendasi tempat kursus terbaik, Ultimate Education hadir untuk bantu kamu mempersiapkan diri lewat kursus dan bimbingan IELTS, TOEFL iBT, TOEFL iTP, GMAT, GRE, ACT, GED, TOEIC, IGCSE, SAT, hingga PTE, lengkap dengan jasa penerjemah profesional. Dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan global, kamu bisa mencapai skor optimal dalam waktu singkat, sambil belajar strategi test-taking yang efektif.
Dengan pendampingan yang terarah dan materi yang relevan, kamu bisa fokus meningkatkan kompetensi tanpa harus khawatir soal usia atau batasan lain. Karena di dunia global, yang paling dihitung bukan umur, tapi kualitas diri. Mulai sekarang, investasikan waktu untuk persiapan ini, dan lihat bagaimana pintu kesempatan terbuka lebar untuk karier internasional yang sukses dan berkelanjutan.
